
Sejarah Islam di Turki tidak bisa dipahami dari satu bangunan atau satu masa. Ia adalah rentang panjang lebih dari sembilan abad: dari kedatangan Islam ke Anatolia pada abad ke-11, berdirinya Kesultanan Utsmani pada 1299, kejayaan yang membentang tiga benua, hingga berakhirnya kekuasaan kesultanan pada 1922. Jejaknya hari ini masih berdiri sebagai masjid aktif, madrasah, makam, dan kompleks dapur umum yang tersebar dari Bursa dan Edirne sampai Istanbul.
Bagi jamaah umroh plus Turki, pemahaman kronologi ini mengubah cara melihat kunjungan. Masjid yang dikunjungi bukan lagi sekadar spot foto, melainkan tonggak: Ulu Cami menandai fase awal, Hagia Sophia menandai 1453, Süleymaniye menandai masa kejayaan, dan Selimiye menandai puncak sebelum kemunduran. Panduan ini menyusun sejarah Islam di Turki dalam satu kerangka kronologis, sekaligus menunjukkan bagian mana yang benar-benar bisa Anda saksikan selama program ziarah.
Lini Masa Sejarah Islam di Turki
Pilih satu era untuk melihat tonggaknya — semua tanggal di bawah ini diwakili situs yang bisa dikunjungi selama program ziarah.
- 1071 — Malazgirt membuka Anatolia; Islam mulai berakar lewat Sultanat Rum di Konya.
- 1299 — Kesultanan Utsmani berdiri di Anatolia barat laut.
- 1326 — Bursa menjadi ibu kota pertama; gaya arsitektur Utsmani mulai terbentuk.
- 1396-1399 — Masjid Ulu Cami Bursa dibangun Sultan Bayezid I dengan dua puluh kubah.
- 1453 — Konstantinopel ditaklukkan Sultan Mehmed II; Hagia Sophia menjadi masjid dan Eyüp Sultan jadi lokasi penobatan sultan.
- 1550-1557 — Masjid Süleymaniye Istanbul dibangun Mimar Sinan untuk Sultan Süleyman Agung.
- 1568-1575 — Masjid Selimiye Edirne selesai; puncak karier Mimar Sinan, diakui UNESCO 2011.
- 1609-1616 — Masjid Biru Istanbul dibangun Sultan Ahmed I dengan enam menara.
- 1683 — Gagalkan pengepungan Wina; masa kemunduran politik dimulai.
- 1839-1876 — Era Tanzimat: reformasi hukum, pendidikan, dan tata kota.
- 1908 — Revolusi Young Turk; kekaisaran masuk babak akhir.
- 1 November 1922 — Kesultanan Utsmani resmi dihapuskan.
- 1923 — Republik Turki dideklarasikan di bawah Mustafa Kemal Atatürk.
- 1934 / 2020 — Hagia Sophia menjadi museum, lalu kembali menjadi masjid.
- 1985 / 2011 — Kota Tua Istanbul dan Masjid Selimiye tercatat sebagai warisan dunia UNESCO.
Menampilkan 15 tonggak.

Sejarah Islam di Turki Dimulai Sebelum Kesultanan Utsmani Berdiri
Cerita biasanya dimulai dari 1299, padahal Islam lebih dulu tiba di wilayah yang kini disebut Turki. Pertempuran Malazgirt pada 1071 membuka Anatolia bagi kekuatan Turki Seljuk, dan tidak lama kemudian berdiri Sultanat Rum di Konya — negara Turki pertama di Anatolia yang berbasis Islam. Dari pusat inilah tradisi membangun masjid, sekolah, dan caravanserai berkembang sebagai bagian biasa dari kehidupan kota, bukan sebagai proyek megah sesaat.
Perdagangan dan jalur tarekat ikut menyebarkan praktik keagamaan ke seluruh Anatolia, sehingga ketika Kesultanan Utsmani tumbuh di ujung barat laut wilayah itu, ia mewarisi budaya membangun yang sudah matang. Kota-kota seperti Konya, İznik, dan Bursa menyimpan artefak penting dari masa peralihan ini: keramik, kaligrafi, dan masjid-masjid kecil yang gayanya masih sederhana dibanding bangunan besar Istanbul.
Poin ini penting bagi jamaah karena menjelaskan mengapa Turki kaya akan peninggalan Islam di luar Istanbul. Rute paket yang singgah ke Bursa, misalnya, sebenarnya menyentuh akar cerita: kota itulah ibu kota pertama Utsmani dan tempat gaya arsitektur Islam Turki mulai menemukan bentuknya sendiri.

Kronologi Kesultanan Utsmani 1299-1922 dalam Lima Tonggak
Kesultanan Utsmani berdiri sekitar 1299 di Anatolia barat laut dan berkuasa selama lebih dari enam abad — salah satu dinasti terpanjang dalam sejarah Islam. Masa itu bisa dipetakan menjadi lima tonggak agar mudah diingat: pendirian dan perluasan awal, penaklukan Konstantinopel pada 1453, masa kejayaan abad ke-16 di bawah Süleyman dan arsitek Sinan, masa kemunduran bersama reformasi Tanzimat abad ke-19, dan penghapusan kesultanan pada 1922.
Setiap tonggak meninggalkan jejak fisik yang berbeda. Periode awal menghasilkan Bursa dan Ulu Cami; periode 1453 menghasilkan konversi Hagia Sophia menjadi masjid serta pembangunan kompleks di sekitar makam Eyyub Sultan; periode kejayaan menghasilkan Süleymaniye dan Selimiye; periode akhir meninggalkan bangunan bergaya Eropa dan kebijakan sekularisasi yang akhirnya mengubah status banyak bangunan.
Tabel berikut merangkum kronologi tersebut sekaligus menandai peninggalan yang masih bisa dilihat hari ini, sehingga Anda bisa mencocokkan kunjungan dengan periode sejarah yang diwakilinya.
Kronologi singkat sejarah Islam di Turki dan jejak yang masih berdiri
| Periode | Tonggak Sejarah | Jejak yang Masih Bisa Dikunjungi |
|---|---|---|
| 1077-1307 | Sultanat Rum di Konya membawa Islam menjadi bagian utama kehidupan Anatolia | Kota tua Konya, pesantren dan caravanserai Anatolia |
| 1299-1453 | Osman I mendirikan kesultanan; Bursa menjadi ibu kota pertama | Masjid Ulu Cami Bursa 1396-1399, makam sultan awal di Bursa |
| 1453-1520 | Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel pada 1453 | Hagia Sophia, kompleks Fatih, makam Eyyub Sultan |
| 1520-1683 | Masa kejayaan: Süleyman Agung dan Mimar Sinan membangun masjid monumental | Süleymaniye Istanbul, Masjid Selimiye Edirne (UNESCO 2011) |
| 1609-1616 | Sultan Ahmed I membangun Masjid Biru dengan enam menara | Masjid Biru Istanbul dan alun-alun Sultanahmet |
| 1839-1922 | Tanzimat, modernisasi, Perang Dunia I, lalu penghapusan kesultanan 1922 | Bangunan awal abad ke-20, museum, dan masjid yang statusnya berubah |
| 1923-sekarang | Republik Turki; Hagia Sophia kembali menjadi masjid pada 2020 | Masjid aktif, museum arkeologi, dan situs warisan dunia Istanbul |
Kronologi hanya terasa dekat ketika tanggalnya berdiri di depan mata: menara yang Anda lihat, kubah yang Anda foto, dan lantai tempat Anda shalat semuanya adalah kalimat dari bab yang sama.— Catatan penyusunan materi ziarah sejarah Islam di Turki

Konstantinopel 1453 dan Kelahiran Istanbul sebagai Kota Islam
Penaklukan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 oleh Sultan Mehmed II — dikenal juga sebagai Muhammad al-Fatih — adalah titik balik paling dramatis dalam sejarah Islam di Turki. Kota yang menjadi pusat Kekaisaran Bizantium selama seribu tahun berubah fungsi menjadi ibu kota kesultanan baru, dan Hagia Sophia, gereja Bizantium berusia hampir satu abad sejak 537, dijadikan masjid.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama. Fatih membangun madrasah, pasar, dan kompleks di sekitar kota, sementara penobatan sultan Utsmani dilakukan di kompleks makam Eyyub Sultan — sahabat Nabi yang gugur pada penaklukan kota tahun 80 sebelum Masehi menurut tradisi, dan makamnya justru ditemukan di kota yang baru ditaklukkan berabad-ada kemudian. Dua situs ini, Hagia Sophia dan Eyüp Sultan, sampai sekarang menjadi tujuan ziarah utama di Istanbul.
Hagia Sophia sendiri mengalami tiga perubahan status: gereja sejak 537, masjid sejak 1453, museum sejak 1934, dan kembali menjadi masjid pada 2020. Riwayat tiga bab inilah yang paling sering membingungkan wisatawan, sehingga penjelasannya lebih lengkap tersedia di artikel khusus Hagia Sophia. Kota tua Istanbul sendiri tercatat sebagai warisan dunia UNESCO sejak 1985, mencakup area Fatih, Sultanahmet, dan tepi Selat Bosphorus.

Masa Kejayaan: Mimar Sinan dan Masjid sebagai Pusat Peradaban
Abad ke-16 adalah puncak sejarah Islam di Turki. Di bawah Sultan Süleyman Agung (1520-1566), kesultanan membentang ke tiga benua dan memiliki sumber daya untuk proyek bangunan berskala besar. Tokoh yang paling menentukan wajah masa ini adalah Mimar Sinan, arsitek agung kesultanan yang karier dan karyanya bisa ditelusuri langsung selama di Turki.
Sinan membagi karyanya ke dalam tiga tahap: masjid Şehzade sebagai ujian, Süleymaniye Istanbul sebagai mahakarya masa tengah, dan Masjid Selimiye Edirne sebagai mahakarya akhir yang ia anggap puncak pencapaiannya. Selimiye, dibangun 1568-1575, diakui UNESCO sebagai warisan dunia pada 2011. Sementara itu Masjid Biru (Sultan Ahmed) yang dibangun 1609-1616 atas perintah Sultan Ahmed I menunjukkan bahwa tradisi arsitektur tetap produktif setelah masa Sinan, meski memicu kontroversi karena memiliki enam menara — jumlah yang sama dengan Masjidil Haram.
Yang membuat masa kejayaan ini relevan bagi jamaah adalah konsep külliye: kompleks yang memadukan masjid dengan madrasah, dapur umum, rumah sakit, dan pemandian. Masjid Utsmani hampir tidak pernah berdiri sendiri karena dirancang sebagai pusat layanan masyarakat. Inilah sebabnya peninggalan Islam di Turki terasa berbeda dari monumen biasa — Anda berdiri di ruang yang selama berabad-abad memberi makan, mendidik, dan merawat warga. Kronologi lebih rinci tentang arsitek di balik bangunan ini tersedia pada artikel Mimar Sinan, sedangkan daftar masjid yang paling layak dikunjungi dirangkum di panduan Masjid-Masjid Bersejarah di Turki.
- Bursa (1299-1453) sebagai sejarah Islam di Turki fase awal — Ulu Cami 1396-1399 dengan dua puluh kubahnya menjadi penanda gaya sebelum Istanbul.
- Edirne sebagai laboratory masa kejayaan — Selimiye 1568-1575 menyempurnakan konsep kubah tunggal yang ditopang empat menara.
- Istanbul sebagai akumulasi enam abad — Hagia Sophia, Süleymaniye, dan Masjid Biru menumpuk dalam satu kota tua.
- Konsep külliye sebagai warisan sosial — masjid berfungsi bersama madrasah, dapur umum, dan rumah sakit.
- Kaligrafi dan keramik sebagai arsip visual — panel kaligrafi dan ubin İznik membaca sejarah tanpa perlu teks panjang.

Dari Kekaisaran ke Republik: Perubahan yang Meninggalkan Jejak Berlapis
Kemunduran politik mulai terasa setelah kegagalan pengepungan Wina pada 1683, sementara tekanan dari kekuatan Eropa mendorong reformasi. Gerakan Tanzimat (1839-1876) membawa modernisasi hukum, pendidikan, dan tata kota; pada masa ini pula banyak bangunan dibangun dengan gaya yang memadukan arsitektur Utsmani dan Eropa.
Perubahan paling besar datang pada abad ke-20. Setelah Perang Dunia I dan runtuhnya kekaisaran, Majelis Agung Nasional menghapus kesultanan pada 1 November 1922, dan Republik Turki dideklarasikan pada 1923 di bawah Mustafa Kemal Atatürk. Sejumlah kebijakan sekularisasi mengubah status peninggalan: Hagia Sophia menjadi museum pada 1934, banyak madrasah ditutup atau diubah fungsi, dan beberapa masjid berubah menjadi museum selama puluhan tahun.
Bagi yang membaca sejarah Islam di Turki hari ini, lapisan inilah yang paling terasa: masjid yang tetap aktif berdampingan dengan bangunan yang difungsikan sebagai museum, lengkap dengan tiket masuk, pemandu, dan aturan berpakaian yang berbeda. Memahami perbedaan itu sebelum berangkat membuat kunjungan lebih nyaman, sekaligus menjelaskan mengapa program ziarah perlu merutekan lokasi secara sadar, bukan sekadar mengikuti daftar tempat.

Cara Membaca Sejarah Islam di Turki Selama Program Umroh Plus Turki
Karena jadwal program selalu terbatas, urutan kunjungan sebaiknya mengikuti kronologi, bukan jarak. Mulai dari Hagia Sophia dan Eyüp Sultan di Istanbul sebagai bab 1453, lanjut ke Süleymaniye dan Masjid Biru sebagai bab kejayaan, lalu tutup dengan Ulu Cami Bursa bila rute melewati kota pertama Utsmani. Bila Edirne masuk dalam itinerary, Selimiye menjadi penutup yang paling kuat karena mewakili puncak arsitektur sebelum abad ke-19.
Siapkan juga catatan kecil berisi lima tanggal kunci — 1071, 1299, 1453, 1568-1575, dan 1922 — karena hampir semua penjelasan pemandu akan merujuk ke satu dari lima angka itu. Dengan kerangka ini, istilah seperti külliye, semangkuk setengah kubah, atau menara bercabang langsung punya konteks, dan pertanyaan yang Anda ajukan kepada pemandu akan jauh lebih spesifik.
Yang tidak kalah penting: sejarah yang sudah dibaca sebelum berangkat membuat momen shalat berjamaah di masjid bersejarah terasa berbeda. Anda tidak hanya berada di dalam bangunan tua, tetapi juga mengenali bab sejarah yang diwakilinya — persis pengalaman yang dikejar oleh jamaah yang memilih program umroh plus Turki ketimbang sekadar wisata kota.
Poin-Poin Penting Sejarah Islam di Turki
- Sejarah Islam di Turki paling jelas terbaca lewat bangunan, bukan teks — setiap masjid besar membawa tanggal, nama pemesan, dan gaya yang bisa langsung diidentifikasi di lapangan.
- Kronologi lima tonggak memudahkan mengingat sejarah Islam di Turki — 1071, 1299, 1453, 1568-1575, dan 1922 sudah cukup untuk menempatkan hampir semua tempat yang dikunjungi.
- Tiga kota mewakili tiga bab utama sejarah Islam di Turki — Bursa untuk fase awal, Istanbul untuk 1453 dan kejayaan, Edirne untuk puncak arsitektur Sinan.
- Membedakan peninggalan Bizantium dan Utsmani menghindari salah paham — Hagia Sophia berakar Bizantium 537, sementara Ulu Cami dan Süleymaniye murni tradisi Utsmani.
- Sejarah Islam di Turki memberi makna pada agenda ziarah umroh plus Turki — urutan kunjungan berbasis kronologi membuat setiap singgah punya bab cerita yang jelas.
Kesimpulan Sejarah Islam di Turki
Sejarah Islam di Turki adalah cerita yang bisa ditelusuri berurutan dari Bursa ke Edirne lalu ke Istanbul, dan kerangka kronologis 1071 hingga 1922 membuat setiap masjid yang dikunjungi punya tempat yang jelas dalam cerita itu. Dengan lima tonggak tersebut, kunjungan selama program umroh plus Turki tidak lagi berupa daftar titik, melainkan perjalanan membaca peradaban yang masih berdiri dan masih dipakai shalat hingga hari ini.
Pertanyaan Umum tentang Sejarah Islam di Turki
Kapan Islam mulai masuk ke wilayah Turki?
Islam mulai masuk ke Anatolia setelah Pertempuran Malazgirt pada 1071, lalu berkembang melalui Sultanat Rum di Konya sebelum Kesultanan Utsmani berdiri sekitar 1299 di Anatolia barat laut. Jadi, sejarah Islam di Turki lebih tua enam abad daripada kesultanan Utsmani itu sendiri.
Apa bedanya sejarah Islam di Turki dengan sejarah Kesultanan Utsmani?
Sejarah Islam di Turki mencakup periode yang lebih luas, mulai dari masuknya Islam ke Anatolia pada abad ke-11, termasuk masa Sultanat Rum, sementara Kesultanan Utsmani (1299-1922) adalah bagian terpanjang dan paling banyak meninggalkan jejak arsitektur di dalamnya.
Masjid mana yang paling mewakili sejarah Islam di Turki?
Tiga masjid paling representatif adalah Masjid Ulu Cami Bursa untuk fase awal 1396-1399, Hagia Sophia untuk bab 1453, dan Masjid Selimiye Edirne 1568-1575 sebagai puncak arsitektur Utsmani yang diakui UNESCO pada 2011.
Apakah semua peninggalan Utsmani masih berfungsi sebagai masjid?
Tidak semuanya. Sebagian tetap menjadi masjid aktif seperti Süleymaniye, Masjid Biru, dan Selimiye, sebagian berstatus museum seperti Hagia Sophia selama 1934-2020, dan sebagian lagi difungsikan untuk keperluan wisata. Setiap lokasi punya aturan berpakaian dan jam kunjungan yang berbeda, jadi sebaiknya dikonfirmasi sebelum berangkat.
Sebelum menentukan pilihan, cek jadwal berangkat, fasilitas, dan proses pemesanan di halaman paket Umroh Plus Turki Classic dan paket Umroh Plus Turki Premium — lalu samakan dengan tanggal serta anggaran Anda sebelum menghubungi admin.
Tanyakan Jadwal Umroh Plus Turki ke Tursina
Baca Juga seputar Sejarah Islam di Turki
- Panduan Lengkap Umroh Plus Turki
- Masjid-Masjid Bersejarah di Turki
- Sultan Muhammad al-Fatih
- Eyyub Sultan Istanbul
- Mimar Sinan
- Masjid Ulu Cami Bursa
- Masjid Selimiye Edirne
- Hagia Sophia
- Masjid di Turki yang Terkenal: Daftar Wajib Kunjung untuk Jamaah Umroh Plus Turki
- Destinasi dalam Paket Umroh Plus Turki: Peta Kota, Durasi, dan Urutan Kunjungan



Pingback: Sultan Muhammad Al Fatih: Penakluk Konstantinopel – Tursina
Pingback: Masjid di Turki yang Terkenal: Daftar Wajib Kunjung untuk Jamaah Umroh Plus Turki – Tursina Tour & Travel
Pingback: Destinasi dalam Paket Umroh Plus Turki: Peta Kota, Durasi, dan Urutan Kunjungan – Tursina Tour & Travel
Pingback: Panduan Umroh Plus Turki 2026-2027: Paket & Harga – Tursina